Indonesian Version
   
  • PROFIL
  • Tentang IDRAP
  • Layanan Kami
  • Wilayah Kerja
  • Para Mitra
  • Testimoni
  • Kontak
  • PROGRAM
  • Peningkatan Kapasitas
  • Peningkatan Pendapatan
  • Perbaikan Kesehatan
  • Pelestarian Lingkungan
  • DUKUNGAN
  • Donor
  • Donasi
  • Volunter
  • PAPAN INFO
  • Berita
  • Artikel
  • Pelatihan
  • Agenda
  • Galeri
  • Download
  • Publikasi
  • Lowongan
  • Link
  •  
         
     


    Inventaris Isu:

    Masyarakat Jampaka Butuh Air Bersih dan Jamban - Masyarakat Desa Jampaka Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara kembali menyuarakan kebutuhan merek...


    Suaka Margasatwa Buton Utara Dalam Ancaman - Suaka Margasatwa Buton Utara, kawasan dengan luas 82,000 ha, merupakan hutan alam lindung terluas di...

     
     
    IDRAP on FB

     

     

    Masyarakat Jampaka Butuh Air Bersih dan Jamban

    Masyarakat Desa Jampaka Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara kembali menyuarakan kebutuhan mereka akan air bersih dan jamban keluarga, setelah desa tetangga mereka, Tomoahi, yang hanya berjarak kurang lebih 2 kilometer telah lama menikmati dua sarana vital ini. Hal ini terungkap dalam acara temu masyarakat (public meeting) yang digagas oleh IDRAP. Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 26 Nopember 2010 dengan dihadiri langsung oleh Direktur Eksekutif IDRAP, Bahaludin, serta ratusan warga menjadi ajang curhat bagi masyarakat tentang berbagai kebutuhan dasar mereka yang selama ini terabaikan dan tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah, terutama terkait penyediaan sarana air bersih maupun jamban keluarga. Desa Jampaka yang dihuni lebih dari 120 kepala keluarga terletak di atas bukit di jalur poros Ereke - Waode Buri dan merupakan desa dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang masih tergolong rendah. Hal ini bisa dilihat dari fisik bangunan rumah penduduk yang rata-rata berkonstruksi semi-permanen dan darurat, hampir tidak ada rumah permanen. Sumber penghasilan warga sangat bergantung pada hasil pertanian seperti mete dan kelapa, yang akhir-akhir ini produskinya makin berkurang seiring dengan umur tanaman serta perubahan iklim yang tidak menentu. Karena rendahnya pendapatan, warga tidak mampu membeli air bersih yang dijual untuk memenuhi kebutuhan harian seperti untuk air minum, memasak, mandi dan mencuci. Mereka hanya mengandalkan air tadah hujan pada saat musim penghujan. Kala musim kemarau, supply air hanya berasal dari sebuah sumur kecil nan-kotor di kaki bukit sekitar 1 kilometer dari pemukiman. Anak-anak banyak menghabiskan waktu untuk memikul air setiap hari saat musim kemarau sehingga waktu belajar mereka menjadi terganggu. Hal serupa terjadi untuk fasilitas sanitasi berupa jamban keluarga. Menurut keterangan yang dihimpun dari masyarakat setempat, hanya ada 1 jamban permanen di Desa Jampaka, selebihnya adalah jamban darurat berupa galian dengan dengan 2 kayu palang berjajar diatasnya. Banyak warga memanfaatkan kebun-kebun sekitar pemukiman sebagai jamban alam. Kondisi sanitasi ini berdampak sangat buruk bagi kesehatan warga terutama penyebaran penyakit diare di kalam musim hujan. Absennya beberapa kebutuhan dasar ini telah berkali-kali disuarakan oleh masyarakat dan pemerintah desa, tetapi belum mendapatkan tanggapan konkrit kecuali janji-janji pada saat kampanye politik. Menurut pengakuan warga dan pemerintah desa, beberapa tahun yang lalu pernah dibangun sarana air bersih di Jampakan melalui program PPK. Hanya saja proyek itu gagal karena fasilitatornya tidak melanjutkan lagi pekerjaan tersebut. "Sudah disambung pipa, pompa air juga dipasang tetapi airnya tidak sampai di kampung. Warga sudah menghabiskan banyak tenaga untuk proyek tersebut, tetapi tidak pernah dapat air sampai sekarang. fasilitatornya tidak pernah muncul lagi," tutur salah seorang warga. Bukan hanya persoalan tidak dapat air bersih, warga juga mengeluhkan 'utang' yang harus terus mereka tanggulangi tiap tahun hingga sekarang terkait dengan proyek yang gagal tersebut. "Sampai sekarang kami masih terus bayar utang untuk proyek tersebut Pak", kata Kepala Desa Jampaka. Ketika ditanyakan pembayaran tersebut untuk peruntukan apa, sang Kepala Desa juga tidak tahu persis. "Yang penting itu uatang air yang harus kami bayar" sambungnya. Atas dasar berbagai kondisi tersebut diatas, masyarakat Desa Jampaka sangat berharap agar IDRAP mau memikirkan nasib mereka agar dapat menikmati air bersih. Mereka meminta IDRAP karena sudah bosan dengan janji-janji politik. Sementara itu menurut warga desa IDRAP lebih dapat dipercaya untuk merealisasikan kebutuhan vital mereka, seperti telah mereka lihat di berbagai desa di Kecamatan Kulisusu Utara, termasuk Desa Tomoahi yang hanya 2 kilometer dari Jampaka juga difasilitasi oleh IDRAP. "Itu desa tetangga kami, Desa Tomoahi, sudah sejak tahun 2005 mendapatkan air bersih juga jamban keluarga. Kami tahu itu IDRAP yang bantu. Jadi tolonglah IDRAP bantu kami juga di sini," seloroh seorang ibu. Menanggapi keluhan dan desakan warga Desa Jampaka, Direktur IDRAP, menyarakan agar pemerintah desa dan measyarakat dapat membuat perencanaan melalui musyawarah desa untuk diusulkan dalam program PNPM. Tetapi dengan nada putus asa mereka menampikkan saran tersebut. "Sudah beberapa kali kami usulkan tapi tidak pernah disetujui. Katanya sudah pernah dikerjakan melalui PPK sehingga tidak bis diusulkan lagi ke PNPM. Padahal kan kegagalan PPK bukan kesalahan warga, kami hanya berkontribusi tenaga dan tidak tahu-menahu tentang desainnya," kata seorang perangkat desa yang ikut hadir.