Indonesian Version
   
  • PROFIL
  • Tentang IDRAP
  • Layanan Kami
  • Wilayah Kerja
  • Para Mitra
  • Testimoni
  • Kontak
  • PROGRAM
  • Peningkatan Kapasitas
  • Peningkatan Pendapatan
  • Perbaikan Kesehatan
  • Pelestarian Lingkungan
  • DUKUNGAN
  • Donor
  • Donasi
  • Volunter
  • PAPAN INFO
  • Berita
  • Artikel
  • Pelatihan
  • Agenda
  • Galeri
  • Download
  • Publikasi
  • Lowongan
  • Link
  •  
         
     


    Berita Terkini:

    Informasi Pusat Gempa yang Simpang Siur: Laporan BMKG Akhirnya Sulit Dipercaya Laporan BMKG Sultra “kacau”. Episentrum gempa yang diberikan BMKG berubah-ubah, menyebabkan info...


    127 Rumah Hancur, 1.760 Warga Mengungsi Akibat gempa yang mengguncang Kendari dan sekitarnya, Senin (25/4), menimbulkan kerusakan rumah warg...


    Jati Muna Butuh Kejelasan Regulasi Kabupaten Muna yang dikenal dengan komoditas jatinya, tampaknya akan mengalami fase kebangkitan dan ...


    Benteng Keraton Buton Dikelilingi 2,7 Kilometer Tembok dengan 100 Meriam Nusantara patut berbangga karena memiliki objek wisata berupa benteng yang konon terluas di dunia. O...


    Mengenal Lebih Dekat Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai Ekosistem di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) mengalami degradasi. Penurunan populasi dan ...

     
     
    IDRAP on FB

     

     

    BENGO Kunjungi Proyek IDRAP

    Tahun 2009 IDRAP mendapat kehormatan untuk dikunjungi oleh BENGO (Beratungsstelle fur private Trager in der Entwicklungszusammenarbeit), suatu badan yang bernaung di bawah Kementerian Kerjasama Pembangunan dan Ekonomi Pemerintah Federal Jerman (BMZ). Kunjungan selama 4 hari ini (12 - 15 Oktober 2009) sekaligus untuk melakukan inspeksi dan assesmen terhadap dampak bantuan Pemerintah Jerman yang disalurkan melalui IDRAP. Lokasi proyek yang terpilih untuk dikunjungi adalah Kabupaten Buton Utara.

    Pada pagi hari Selasa tanggal (13/10) dengan menggunakan speedboat yang disediakan oleh proyek mengunjungi 3 desa pesisir di Kecamatan Kulisusu Utara untuk melihat proyek-proyek yang telah dilaksanakan oleh masyarakat yang difasiltasi oleh IDRAP. Yang pertama dikunjungi adalah proyek air bersih dan sanitasi di Desa Pebaoa, diteruskan dengan melihat proyek sanitasi di desa Lamoahi yang dikonstruksi untuk rumah panggung oleh masyarakat setempat. Pada kesempatan ini beberapa warga yang sempat berdialog dengan Mr. Trittler mengungkapkan kegembiraan mereka atas bantuan ini. "Sudah puluhan tahun kami bermukim di desa ini, tapi baru saat ini dapat bantuan jamban keluarga. Selama ini hanya janji-janji saja," ungkap salah seorang warga Lamoahi.

    Di Desa Lanosangia, Mr. Bertold Trittler dan Mr. Peter Wychodil melakukan inspeksi dengan menelusuri lorong-lorong kampung untuk melihat bagaimana air bersih disambungkan ke rumah-rumah penduduk serta jamban keluarga yang telah dikonstruksi dan dimanfaatken oleh masyarakat. Di depan kerumunan warga Desa Lanosangia, Mr. bertold Trittler mengukapkan kepuasannya atas pelaksanaan proyek. "Kami dari BENGO mewakili pemerintah Jerman merasa puas bahwa masyarakat di desa ini telah menikmati air bersih. Kami telah menyaksikan bahwa air telah keluar dari kran di rumah masing-masing. Juga masyarakat sudah menggunakan jamban keluarga" kata Tritler saat memberikan sepatah kata di depan kelompok masyarakat di Desa Lanosangia.

    Esok harinya, Rabu (13/10) kegiatan kunjungan difokuskan untuk melihat proyek air bersih E'emokula, sistem sarana air bersih yang melayani 4 desa yaitu Lelamo, Waode Buri, Ulunambo dan Tomoahi. Sarana air bersih ini dibangun oleh masyarakat bersama-sama dengan IDRAP pada tahun 2004 yang lalu, dan hingga kini masih berjalan dengan bagus. Tanpa subsidi pemerintah sedikit pun, sarana yang difasilitasi oleh IDRAP ini ternyata jauh lebih mandiri dan berkelanjutan. Buktinya ketika terjadi kerusakan pada jaringan masyarakat tidak dibebani lagi dengan pungutan biaya perbaikan karena semuanya sudah terkafer dalam iuran bulanan. "Kami sangat puas dengan sistem yang dikembangkan IDRAP ini. Kami hanya cukup patuh membayar iuran bulanan berdasarkan pemakaian air, segala kerusakan sudah menjadi tanggung jawab pengurus. pengurusnya orang sini juga, yang paham tentang teknik air bersih," kata seorang konsumen yang menjelaskan pertanyaan Mr. Trittler.

    Setelah melihat sistem air bersih, perjalanan dilajutkan untuk melihat kegiatan reforestasi yang dikembangkan masyarakat setempat dengan difasilitasi oleh IDRAP. Tempatnya memilih suatu area penanaman jati alam yang dilakukan oleh beberapa keluarga dalam hamparan 5 hektar. Untuk mencapai area ini, terpaksa harus mendaki 2 bukit. Dia area reforestasi ini kedua tamu cukup puas melihat hasil dampingan IDRAP, meskipun tetap menyarankan agar masyarakat jangan melakukan penanaman monokultur tetapi harus diselingi dengan tanaman lainnya.

    Siang harinya kunjungan dilakukan untuk melihat pertemuan bulanan kegiatan kredit mikro di Desa Wapala Kecamatan Kulisusu. Mr. Tritler mengikuti prosesi pertemuan dan diakhir pertemuan melakukan dialog dengan para anggota kredit yang hampir seluruhnya adalah petani rumput laut di teluk Kulisusu. Dalam dialog beberapa isu didiskusikan seperti hambatan-hambatan yang dialami oleh para anggota termasuk yang terkait dengan penanaman rumput laut dan pemasarannya.

    Hari kamis adalah hari terakhir berada di Buton Utara. Pagi hari sambil menunggu kedatangan kapal, Mr. Trittler dan Mr. Peter berkunjung ke tempat usaha anggota kredit mikro di Desa Laangke, lokasi pembuatan batu merah. Disana mereka melihat prosesi pembuatan batu merah mulai dari penggalian tanah liat, pencampuran, pencetakan hingga pembakaran. Diskusi dengan para anggota kelompok kredit yang sedang bekerja di lokasi pembakaran juga dilakukan. Satu hal yang menjadi dampak dari kredit mikro ini adalah disamping peningkatan pendapatan, juga kemampuan keluarga untuk menyekolahkan anak dan memperbaiki rumah yang tadinya beratap rumbia sekarang beratap seng.

    "Dulu atap rumah saya terbuat dari daun rumbia. Setelah dua tahun bergabung dengn DEKAPE saya punya modal cukup untuk mengembangkan usaha saya. Sekarang rumah saya sudah beratap seng. Itu saya beli dari keuntungan usaha saya yang didanai dari DEKAPE", tutur seorang warga.

     

    Sumber: IDRAP